Berkreasi, Berkarya, Berjuang dengan Pena
Tampilkan postingan dengan label karya tulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label karya tulis. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 Mei 2011

Apa yang salah dariku (bag. 2)

A  p  a     y  a  n  g     s  a  l  a  h     d  a  r  i  k  u   (bag. 2)
Hafidzoh

     Seorang gadis kecil terduduk lunglai di bangkunya. Kepalanya tertunduk menatap lantai kelas. Suaranya tak terdengar lagi. Sesekali yang terdengar hanyalah suara cegukan yang keluar dari tenggorokannya. Ternyata dia sedang menangis. Entah menangis karena apa. Yang pasti, hanya dia satu-satunya siswi yang masih berada di kelas tersebut. Sedangkan yang lain, mungkin mereka sudah pergi bermain bersama teman-temannya. Gadis kecil ini terlihat sangat sedih. Terbukti dengan air mata yang sedari tadi tak berhenti mengalir dari mata sayunya. Dia tampak tengah menyesali sesuatu. Perlahan-lahan, dia melangkahkan kakinya meninggalkan kelas yang sepi itu. Dia meniti jalan pulangnya seorang diri, tanpa seorang teman pun. Hingga akhirnya sampai juga dia di rumah. Sesampainya di rumah, dia tidak segera berganti pakaian. Melainkan langsung menghempaskan tubuhnya ke atas kasur. Dia tertidur. Lelap sekali. Sampai ia benar-benar melupakan semua kejadian yang hari ini menderanya.
            Seperti biasa, pagi ini dia berangkat sekolah diantar oleh ayahnya. Padahal jarak

Selasa, 19 April 2011

Apa yang salah dariku (1)

Apa yang salah dariku (1)
Hafidzoh
 
          Aku tak pernah tahu kenapa jantungku selalu berdegub lebih kencang tatkala aku tahu ada seseorang yang menyukaiku ? Entah itu suatu keanehan ataukah bukan. Tapi yang pasti, aku merasa tidak nyaman dengan perasaan itu. Apa mungkin ini trauma masa... kecilku ? Entahlah, aku juga bingung.
            Terkadang hati kecilku berkata bahwa aku ingin seperti anak-anak seumuranku yang lainnya. Yang dengan mudah dapat bergaul dengan teman laki-laki sebayanya. Tapi bagiku, pergaulan itu ada batasnya. Aku tidak mau terlalu dekat dengan temanku yang laki-laki, karena aku tahu bahwa akhir dari persahabatan itu pasti cinta. Aku tidak percaya bila ada seorang cewek dan cowok yang selamanya akan menjadi sahabat. Kalaupun itu ada,

Egomu Torehkan Luka . . . Part 1

Egomu Torehkan Luka . . . Part 1
Hafidzoh

Aku tidak tahu apa yang saat ini sedang kurasakan. Entah senang, marah, atau justru gundah ? Aku memang jengkel dan lelah dengan semua sifatnya selama ini. Mulai dari keegoisannya, keinginannya untuk menang sendiri, dan masih banyak lagi sifat buruknya yang membuatku muak. Sebenarnya, bukannya aku “sok suci” atau “sok tak berdosa”, tapi aku benar-benar geram dengan sifatnya yang seenaknya sendiri itu. Bukan hanya aku yang menjadi “korbannya”, tapi teman sekelasnya sejak SMP sampai SMA pun juga sangat jengkel dengan sifat buruknya itu.
            Huft !!!
            What should I do ?
  1. Berpura-pura bahwa aku baik-baik saja, sementara hatiku tidak menyataka hal yang sama ,
  2. Ataukah aku harus berterus terang kepadanya dan keadaan tidak akan sama lagi ?
Entahlah, aku benar-benar pusing untuk saat ini !!
            Tapi bila aku tidak jujur,

Kamis, 17 Maret 2011

MUATAN RELIGIUS DI TENGAH PENULIS FIKSI

Muatan Religius di Tengah-tengah para Penulis Fiksi

 1. Masalah Realitas Sastra yang Ada

Eksprresi seni, apapun bentuknya, akan dapat dijadikan titik tolak dan menjadi indikator pembaca dalam melakukan kerja analisis serta apresiasi atas ekspresi seni itu. Wujud ekspresi menunjukkan kesiapan hal tersebut pada apa yang dikatakan "sosialisasi". Ekspresi seni menyiapkan diri berinteraksi komunikasi dengan hal diluarnya. Maka jadilah buah pembahasan tentang karya seni dimana-mana, misalnya seminar, sarasehan, dan bentuk-bentuk pembahasan lain yang disukai.

Seorang pendeta Nasrani yang banyak tahu mengenai agama-agama, bahkan tentang agama Islam, membuat pernyataan, bahwa pada mulanya semua ekspresi seni itu bersifat religius. Pernyataan ini sebenarnya secara spesifik ditujukan kepada ekspresi seni bidang sastra. Seni sastra berarti seni yang dilahirkan dengan wujud tulisan (Mangunwijaya, 1988 : 11)
"Pada awal mula, segala sastra adalah religiositas"
Dinyatakan "segala sastra" berarti dengan demikian, meliputi bentuk-bentuk ekspresi karya bidang sastra. Sebagaimana orang telah memahami, bahwa bentuk-bentuk yang dimaksud adalah berupa karya prosa, perpuisian, serta karya tulis naskah drama. Semua bentuk tersebut ditulis atas dasar maksud-maksud yang terkandung dari pikiran-pikiran para sastrawan yang religius. Para penulis sastra adalah sebuah sosok yang secara alamiah mengemban dua dimensi alamiah, yaitu kalbu yang religius dan jasad fisik yang realitas empirik
.
Lalu, apakah ada ekspresi sastra, sama sekali, tidak berkandungan anasir religius?
Nah, inilah yang barangkali menarik dijadikan bahan pembicaraan. Masalahnya perkembangan waktu, serta perubahan orientasi budaya masyarakat pada gilirannya bisa  berakibat mementahkan semuanya. Semisal, kebudayaan pragmatik. Kebudayaan ini  pada akhirnya banyak mengantarkan orang memiliki kecenderungan orientasi berpikir serba lahiriah. Segala sesuatu yang terjadi akan dilihat dari hal-hal yang tampak oleh penglihatan mata real manusia. Sedangkan segala sesuatu yang tidak terlihat, bagi paham ini, tidak perlu dibicarakan di sini.

Menurut Abulhasan Annadwi (1986 : 32), secara gampang, sebab-sebab lahiriah ini bisa dilihat, namun umumnya orang jarang memiliki kesanggupan mengetahui sebab-sebab bathiniah. Memang, persoalan yang berkadar "dunia dalam" bagi masyarakat umumnya, terlalu sulit bagi mereka untuk meng-kaji. Memerlukan cara tersendiri apabila orang ingin melakukan penelusuran dimensi batiniah tersebut. Perlu melakukan langkah-langkah pendekatan kearah sana. Orang tidak harus menebak jitu, seperti yang pernah ada dalam ‘gambling’ tebak kuis, pada urusan itu. Sehingga urusan dunia batiniah itu memang benar-benar tidak segampang bila orang berurusan dengan hal-hal yang lahiriah.

Masalah dunia realitas juga bermula dari hal-hal yang kasat mata. Suatu proses penciptaan karya sastra senantiasa bertolak dari peristiwa kasat mata, kemudian lebih jauh pengarang menariknya ke pengolahan atau internalisasi menuju dunia demensi dalam. Dunia yang berkaitan erat dengan sesuatu yang lahiriah, sebagaimana dinyatakan oleh Umar Junus (1983 : 3), bahwa orang tidak mungkin berimajinasi tanpa pengetahuan, suatu realitas. Oleh karena itu, imajinasi selalu terikat pada realitas, sedangakan realitas tidak mungkin dapat dilepaskan dari imajinasi.

Kadang orang membuat pernyataan yang sangat rumit dan pelik menyangkut imajinasi. Ada yang mengistilahkan, bahwa imajinasi merupakan dunia bawah sadar. Bisa saja orang membuat pernyataan lain-lain mengenai hal itu. Akan tetapi hal itu malah dapat membingungkan orang. Semua orang secara kodrati diberi bekal dasar kecakapan berimajinasi. Akal sehat menjadikan mereka sanggup menyadap suatu realitas dengan dibumbui pikiran-pikiran imajinasi.

Menulis karya sastra, menurut Umar Yunus (1983)  merupakan sebuah proses yang diawali dari suatu peristiwa nyata. Barulah setelah itu diinternalisasi dengan kemampuan imajinasi secara kreatif. Suatu daya khayal yang menyebabkan orang lebih leluasa dalam mewujudkan semua kemauan. Dengan berimajinasi orang menjadi terlepas dari kungkungan waktu dan ruang realitasnya. Tidak ada lagi sekat-sekat keterbatasan pikiran.

Menurut Danarto dalam Duapuluh Sastrawan Bicara (1984) manusia hanyalah semacam talang, saluran. Sebagai tempat penyaluran, di sana, segalanya akan mengalir lewat talang itu. Ditambahkannya, semua perasaan benci, baik, buruk maupun kotor, tentu tidak terkecuali, akan mengalir melalui talang saluran itu. Bukan berarti pasif dalam hal ini, melainkan demensi pandangnya adalah kebesaran yang Maha Mutlak. Setiap yang diciptakan oleh-Nya, tentu berlaku hukum akan mengikuti sekehendak yang menciptakan.

2. Sastra Religius

Jika pemahaman kita salah tarik atas pernyataan Danarto, manusia sebagai talang saluran, maka semua akan menjadi bingung lagi. Karena selain dari itu, Danarto juga pernah menyatakan dalam buku Duapuluh Sastrawan Bicara (1984) "Trenyata ada yang menulis digerakkan, didorong dan dijiwai oleh pandangannya itu. Sehingga pengarang merasa berkewajiban tertentu dalam menulis".

 Menangkap substansi dari pernyataan di atas, yang paling penting di sini adalah subjek penulisnya. Manusia yang menjadi penulis sangat menentukan warna dan corak dari karya yang dihasilkan. Hitam atau putih dari suatu karya sastra, tentu sangat bergantung dari pikiran apa yang ada dibenak sang sastrawan. Sehingga, pandangan ini tidak menempatkan cipta sastra sebagai buah karya yang otonom dan berdiri sendiri. Kalau ada isi dan corak yang dianggap bersinggungan dengan realitas yang ada, tentu akan berkaitan erat dengan siapa penulisnya. Didorong oleh keinginan apa/bagaimana mereka melahirkan tulisan sastra seperti itu.

Bagaimana dengan pendapat yang menyatakan, bahwa pada awal mula segala sastra itu religius?
Tentu tidak salah. Sebab lahirnya ekspresi sastra bermula dari suatu peristiwa yang diinternalisasi oleh batin atau kalbu sang pengarang, sehingga isi perasaan religius akan turut serta dilahirkan ke permukaan. Jika ada sebuah karya, yang ternyata sama sekali tidak bermuatan anasir religius, tentu karya tersebut tidak berjaminan bernilai sastra. 

3. Penulis Fiksi Kita 

 Uraian di atas bermaksud menggiring pada fokus mengenai si penulis fiksi. Sebelum beranjak jadi penulis, orang harus dijiwai tata nilai alamiah, yaitu landasan pengetahuan. Sang Maha pencipta mengisyaratkan awal mula orang mendapatkan pengetauan pada demensi realitas dengan perintah : Bacalah! (Q.S. Al-alaq : 3-5). Maka diperolehlah pengetahuan. Tata nilai yang religius ini berlaku universal bagi kepercayaan atau agama manapun tanpa terkecuali. Urusan agama tertentu punya kaidah yang sejalan, itu hanya persoalan kebingungan realitas saja. Namun esensinya akan tetap.

Dengan demikian, tidak ada pengarang sastra yang bisa mengingkari muatan religius dalam karyanya. Realita yang ada, bahwa orang yang akan jadi penulis fiksi harus sering-sering membangun kesadaran religiusitas atas dirinya. Sehingga mereka tidak mudah tergiring sekedar pemenuhan mengarang tanpa bobot muatan religius, seperti penulis fiksi paham pop yang pragmatis itu.

Apa kaitan religius dengan imajinasi?

Sastra tanpa bobot muatan perasaan manusia religius? Sama artinya dengan sebuah karya yang tidak mengandung isi. Karena yang namanya isi sastra adalah bobot perasaan. Sekarang yang terjadi, tinggal penulis kita yang banyak mengantongi terus-menerus dan mengasah perasaan-perasaan religiusnya, sehingga sudah pasti hasil karyanya nanti akan bermuatan anasir-anasir religius.


*) Affan Subandi
Penulis adalah Ketua Forum Lingkar Pena (FLP) Cabang Banyuwangi.

Rabu, 16 Maret 2011

Keajaiban membaca

KEAJAIBAN MEMBACA
By Abi Manyu

Sahabatku, Allah memberi kita nikmat dua bola mata untuk melihat, melihat ciptaan-Nya di ikuti mengucap syukur atas segala nikmat itu. Kita terkadang lalai dengan nikmat yang di anugerahkan Allah kepada kita. Jika ingin merasakan nikmat mata maka bertanyalah kepada orang yang buta. Atau cobalah menutup mata anda menggunakan penutup mata atau apapun yang bisa menutup mata, lakukan sejak bangun pagi hingga sore hari. Rasakan kegelapan yang menyelimuti sekitar kita. Dalam kegelapan itu lakukan aktifitas sehari-hari seperti biasa! Mandi makan, bersih-bersih, kerja, pergi ke pasar, sekolah atau mungkin menonton TV. Apa yang anda rasakan !, saya yakin jawabnya adalah tersiksa, gelap gulita, hitam pekat persis seperti ketika kita ada dalam kegelapan malam. Tidak mampu melihat apapun, dan siapaun.

Mata juga di anugerahkan Allah kepada kita agar kita membaca; membaca tanda kebesaran Allah di sekitar kita, membaca buku, membaca koran membaca perubahan jaman, membaca situasi dan kondisi. Bersyukur saya di beri anugerah mata, dengan mata ini saya bisa menikmati indahnya pemandangan panorama alam di pagi hari, indahnya matahari pagi, indahnya senyuman sahabat, indahnya kuntum mawar yang merekah. Dengan mata juga saya bisa menikmati sastra pujangga berabad-abad yang lalu, dengan membaca saya bisa merasakan patriotisme prajurit islam dalam perang badar. Membaca mampu membawa saya ke suatu masa bagaimana imam Syafi'i hijrah dari kota ke kota lain untuk mendapatkan hadist sohih selama bertahun-tahun. Dengan membaca saya mampu menitikkan air mata merasakan bagaimana habiburrahman al syeirozy menggoreskan ayat-ayat cinta. Dengan membaca dada saya bergetar hebat merasakan Bagaimana bung Tomo memekikkan kalimat Allahu akbar dalam mengobarkan semangat arek-arek suroboyo.

Maka kedudukan membaca adalah sangat penting bagi manusia. Ingat! ayat yang pertama turun adalah perintah membaca! Iqro' .Jika kita sudah mampu membaca dengan baik, maka biasakan diri dengan menulis, mencatat segala sesuatu yang berkesan dalam hidup, karena hal itu akan menjadi sejarah dalam hidupmu! Kita tidak akan mengetahui sejarah perjuangan para sahabat jika tidak ada tulisan, kisah perjuangan dan pengorbanan para pahlawan melawan penjajah akan hilang di telan masa jika tanpa tulisan. Maka catatlah, tuliskanlah dengan pena hal hal yang di anggap penting dan bersejarah. Selamat mencatat dan membuat sejarah, karena tulisanmu akan di baca oleh orang lima puluh, seratus tahun, hingga seribu tahun yang akan datang

Membaca berarti membuka mata dan hati
Melihat realitas di sekitar kita

Kamis, 23 Desember 2010

LAKI - LAKI TERBAIK

LAKI – LAKI TERBAIK
(hanya catatan kecil untuk laki – laki, persembahan untuk para ibu)
Perintah bagi laki – laki (suami) untuk mempergauli wanita (istri) dengan baik telah tegas diperintahkan di dalam firman Allah “...dan pergaulilah mereka (istri-istri) dengan cara yang ma’ruf (baik)...” (An-Nisa’ 19). Memperlakukan wanita (istri) dengan baik seperti diperintahkan dalam ayat tersebut tidak dibatasi pada perbuatan tertentu. Perlakuan baik itu diperintahkan pada setiap hal dan setiap perbuatan. Maka penjabaran dari mempergauli atau memperlakukan istri dengan baik adalah perlakukan dengan baik pada seluruh urusan dalam hubungan antara suami dan istri; berbicara dengan baik, sopan kepada istri, menegur kesalahan istri dengan baik, memanggil istri dengan panggilan yang baik, termasuk memberikan nafkah untuk istri dengan cara yang ma’ruf.

Minggu, 10 Oktober 2010

MENULIS MAKALAH ILMIAH

1. Apa yang dimaksud Ilmiah?
Ilmiah dalam suatu tulisan yang dihasilkan berarti digunakan metode dan prinsip-prinsip science, yaitu sistematis dan eksak, atau menggunakan metode penelitian di mana suatu hipotesis yang dirumuskan setelah dikumpulkan data objektif secara sistematis, dites secara empiris. Science selalu empiris, yaitu didasarkan atas data yang diperoleh melalui observasi. Science bersifat sistematis dan mencoba melihat sejumlah observasi yang kompleks dalam hubungan yang logis. Science itu objektif, menjauhi aspek-aspek yang subyektif.
Karena itu, kegiatan ilmiah tidak mencampurkannya dengan nilai-nilai etis.
Science tidak bertanya apakah objek penelitian itu baik atau buruk.
Science atau ilmu pengetahuan sering dipandang sebagai akumulasi pengetahu-an yang sistematis. Science dapat dan harus memperluas pengetahuan. Akan tetapi haki-kat science yang utama adalah sebagai suatu metode pendekatan terhadap keseluruh-an dunia empiris, yakni dunia kenyataan yang dapat dikenal manusia melalui pe-ngalamannya.
Science tidak bertujuan untuk menemukan kebenaran mutlak. Bagi science, segala pengetahuan bersifat sementara atau tentatif yang dapat berubah bila ditemukan data baru misalnya jika ditemukannya dengan menggunakan alat-alat baru.. Science adalah suatu metode analisis dan mengemukakan penemuannya dengan hati-hati dalam bentuk “jika”, “maka”. Dengan science, teori memegang peranan yang penting. Teori merupakan hal yang pokok dan dasar bagi science.
2. Pengertian Tulisan Ilmiah
Tulisan ilmiah dapat didefinisikan sebagai suatu karya tulis hasil kegiatan ilmiah yang berupa artikel/hasil penelitian atau berupa makalah yang disajikan pada forum pertemuan ilmiah. Tulisan ilmiah yang tersaji dengan bahasa dan format yang lebih populer disebut sebagai tulisan ilmiah populer.
3. Ciri khusus tulisan ilmiah
Tulisan ilmiah memiliki beberapa ciri khusus, yaitu:
a. Isi sajiannya berada pada kawasan ilmu
b. Penulisannya cermat, tepat, dan benar
c. Sistematika jelas, dan
d. Bersifat objektif (dengan fakta dan rasional)
Setiap tulisan ilmiah hanya menyajikan ringkasan atau hal-hal yang menarik dari suatu kegiatan ilmiah (penelitian, pengembangan, dan evaluasi). Tulisan ilmiah sering juga disebut makalah. Makalah dapat menjadi artikel bila termuat di majalah ilmiah, atau bahan tulisan bagi siaran radio/TV, atau bahan tertulis dalam pertemuan ilmiah.
Penelitian merupakan suatu kegiatan pengkajian terhadap suatu permasalahan dengan menggunakan metode ilmiah. Hasilnya berupa pengetahuan ilmiah dari hal yang dipermasalahkan. Pengembangan merupakan kegiatan yang dapat berupa perancangan, perencanaan atau rekayasa yang dilakukan dengan berdasar metode berpikir ilmiah. Hasilnya berupa pengetahuan ilmiah atau teknologi yang digunakan untuk memecahkan masalah tersebut. Sedangkan evaluasi merupakan suatu kegiatan yang bertujuan untuk mendapatkan informasi yang diperoleh melalui tata cara tertentu berdasar pada metode berpikir ilmiah. Hasilnya adalah pengetahuan ilmiah yang digunakan untuk pengambilan kebijakan terhadap hal yang dipermasalahkan. Dengan demikian, kegiatan penelitian, pengembangan, dan evaluasi merupakan kegiatan ilmiah yang akan ditulis dalam bentuk dan format penulisan ilmiah mulai dari buku, artikel, dan gagasan yang ditulis melalui media massa.