Berkreasi, Berkarya, Berjuang dengan Pena

Minggu, 09 Juni 2013

AL-BARAKAH

AL-BARAKAH

1.         Makna Barakah
2.         Pentingnya Barakah
3.         Bagaimana meraih barakah

1.         Makna Al-Barakah:
Di antara makna kata al-barakah (البركة) adalah an-nama’ wazziyadah (النماء و الزيادة) yang berarti tumbuh dan bertambah. Al barakah (البركة) juga bermakna al-katsrotu  fii kulli khair (الكثرة في كل خير) atau kebaikan yang banyak. Makna lain dari kata al-barakah (البركة) adalah as-sa’aadah (السعادة) yaitu kebahagiaan. [1]

Dari sekian banyak penjelasan tentang definisi kata al-barakah, dapat disimpulkan bahwa al-barakah adalah; (1) ziyadatul khair (زيادة الخير) yang berarti tambahan kebaikan, dan; (2) tsubutul khairi wa ziyadatuhu (ثبوت الخير و زيادته) atau kebaikan yang tetap dan tambahannya.

(1)   Ziyadatul khair (زيادة الخير) yang atau tambahan kebaikan.
Pengertian ini menjelaskan bahwa al-barakah berawal dari suatu kebaikan yang melahirkan kebaikan-kebaikan lainnya. Misalnya; seorang yang mencari rejeki dengan cara yang halal kemudian mendapatkan hasil beberapa rupiah. Lalu dengan beberapa rupiah yang ia dapatkan, seseorang tersebut dapat memberikan makan kepada keluarganya, membayar biaya pendidikan, bershadaqah dan beramal jariyah dalam pembangunan mushalla. Maka pekerjaan mencari rejeki dengan cara halal yang dilakukan oleh seseorang tersebut adalah amal kebaikan. Sedangkan perbuatan memberi makan, membayar biaya pendidikan, dan amal jariyah adalah tambahan kebaikan yang lahir karena kebaikan pertama (bekerja halal). Tambahan kebaikan itulah yang disebut dengan al-barakah.

(2)   Tsubutul khairi wa ziyadatuhu (ثبوت الخير و زيادته) atau kebaikan yang tetap dan tambahannya.
Pengertian kedua ini sebenarnya sama dengan pengertian pertama. Hanya saja pada pengertian ini terdapat tambahan (ثبوت الخير) atau kebaikan yang tetap. Jika mengambil contoh seperti pada pengertian pertama, maka kebaikan yang tetap adalah berupa perbuatan seseorang mencari rejeki yang halal. Contoh lain untuk memperjelas pengertian kedua ini adalah; seseorang yang menanam pohon kelapa atau pohon lainnya. Jika dimisalkan pohon itu adalah amal kebaikan, maka buahnya baik kelapa muda maupun tua, kulit kelapanya, tempurungnya, airnya, dan janurnya, adalah kebaikan lebih dari adanya pohon (amal). Pohonnya (amal) tetap tumbuh, dan buahnya, janurnya dan lainnya (berkah) melimpah.

2.         Pentingnya Al-Barakah

Tidak dapat disangkal lagi bahwa manusia hidup dalam keterbatasan; Kekuatan terbatas, harta benda terbatas, dan bahkan umurpun juga terbatas. Dalam keterbatasannya itu, manusia tetap saja menginginkan lebih; menginginkan kekuatan lebih, harta benda berlebih, dan juga umur yang lebih lama.

Mungkinkah manusia mendapatkan keinginannya untuk mendapatkan “lebih?” Al-barakah adalah jawabannya. Manusia dapat menggapai keinginannya untuk mendapatkan “lebih” dari apa yang ada dengan cara menggapai al-barakah. Dan memang untuk mendapatkan sesuatu yang “lebih” itulah maka Allah ta’ala pencipta al-barakah memberikan jalan bagi manusia yang selalu menginginkan “lebih”.

Contoh-contoh yang telah banyak terpampang di depan kita, dalam kehidupan sehari-hari kita, telah banyak memberi ibrah (pelajaran) tentang pentingnya al-barakah dalam hidup singkat ini. Kadang kita mendapati seseorang yang biasa-biasa saja, memiliki pekerjaan yang juga biasa-biasa saja, dan dengan penghasilan yang biasa-biasa pula, akan tetapi kita mendapatinya sebagai orang yang tidak pernah mengeluh. Kehidupannya nikmat (adem ayem), makanannya cukup dan tidak harus mengemis, anak-anaknya bisa menyelesaikan pendidikan dengan baik, plus masih pula dia bisa menyisihkan sebagian hartanya untuk berinfaq dan bershadaqah. Ditambah lagi anak-anaknya menjadi shalih dan shalihah.

Di sisi lain (bukan bersu’udz-dzan) kita juga sering mendapati orang-orang yang tampaknya hebat dan sukses, dengan usaha-usaha besar, dan sebagainya, akan tetapi telinga kita kadang sampai bosan mendengar mereka mengeluh, merasa kurang, dan kurang lagi. Jangankan untuk bershadaqah, karena harta benda mereka hanya untuk membesarkan usaha yang tidak pernah cukup, dan bahkan untuk itu mereka harus mencari pinjaman ke Bank atau lembaga keuangan lainnya. Atau jikapun mereka bershadaqah, tampaknya terlalu kecil dibanding kepemilikan mereka yang tampak mewah. Seperti kata orang (sindiran): “ah… ayam bertelur puyuh” (tidak sepantasnya, kan?)

Sekedar contoh lain tentang seorang teman:
Seorang teman. Pekerjaan sehari-harinya adalah menjual buku di trotoar jalan raya. Buku-bukunya hanya buku-buku biasa, bukan buku-buku “best seller” yang dijual di toko-toko besar. Begitu rutinitas yang dia lakukan setiap hari. Membuka lapaknya pagi-pagi, shalat dhuha bergantian dengan istrinya pada hari menjelang siang, lanjut melayani pembeli (kalau ada) sampai dzhuhur, ke masjid untuk jama’ah dzuhur, dan tutup menjelang ashar. Sekilas hanya seperti itu. Mungkin orang-orang yang lewat dan tidak mengenalnya akan merasa iba atau kasihan padanya. Tetapi orang akan terbelalak kaget jika mengetahui apa yang telah dia dapatkan dari jerih payah dalam halalnya. Ternyata setiap ke masjid untuk shalat jama’ah 5 waktu, dia selalu memasukkan lembaran-lembaran uang ke dalam kotak amal jariyah masjid. Anak-anaknya juga telah selesai menempuh pendidikan. Yang lebih hebat, keduanya (suami istri) telah menyempurnakan rukun Islam yang kelima, ibadah Haji. Padahal banyak yang (tampaknya) lebih sukses usahanya masih sering mengeluh, merasa kurang, mencari pinjaman ke Bank, dan… dan… Bukan su’udz-dzan dan bukan vonis tentang rejeki yang tidak berbarakah, akan tetapi ini hanya contoh yang ada. Mungkin Andapun sering menyaksikan yang serupa.

3.         Bagaimana menggapai al-barakah?

Al-Barakah tidak dapat diraih kecuali dengan menyatukan dua jalan; (1) mendapatkan dengan jalan yang baik; (2) mengeluarkan dengan jalan yang baik. Keduanya tidak bisa dipisahkan. Harta yang didapat dengan jalan yang baik (halal) tidak akan berbarakah jika dikeluarkan dengan jalan yang tidak baik (haram). Jika seseorang telah mencari rejeki dengan jalan yang baik, memeras keringat, membanting tulang dengan cara yang halal, maka rejeki yang ia dapatkan tidak akan berbarakah jika ia keluarkan untuk membeli khamr, membeli nomor togel, atau untuk sesuatu yang tidak penting. Sebaliknya, upaya-upaya yang diharamkan juga tidak dapat mendatangkan barakah, meskipun dimanfaatkan untuk kebaikan. Seperti harta hasil judi untuk membangun masjid, mahrul baghyi (مهر البغي) atau upah pelacuran untuk zakat, dan sebagainya.

Semoga umur, harta, ilmu, dan apa yang diberikan oleh Allah kepada kita, dapat berbarakah…
Barakallau fiinaa wa fiikum…


[1] Lisanul ‘Arab

Kamis, 25 April 2013

Al-A'raf: 50-51



Kajian tafsir hari ini:
Al-A’raf: 50-51

Al-A’raf: 50

 وَنَادَى أَصْحَابُ النَّارِ أَصْحَابَ الْجَنَّةِ أَنْ أَفِيضُوا عَلَيْنَا مِنَ الْمَاءِ أَوْ مِمَّا رَزَقَكُمُ
(Dan penghuni neraka menyeru penghuni syurga: " limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah dirizkikan Allah kepadamu").

Menurut Assuddy, mereka meminta makanan. Abdurrahman bin Zaid bin Aslam berkata bahwa yang dimaksud adalah: “Mereka meminta makanan dan minuman.” Ats-Tsauri berkata tentang ayat tersebut, berdasarkan riwayat dari ‘Usman dan Ats-Tsaqafi, dari Sa’ud bin Jubair: Penghuni neraka memanggil ayahnya atau saudaranya: “Aku telah terbakar. Tuangkanlah air untukku.” Maka dikatakan kepada penghuni surga agar mereka menjawab permintaan penghuni neraka. Maka para penghuni surga berkata: 

 إِنَّ اللَّه حَرَّمَهُمَا عَلَى الْكَافِرِينَ
("Sesungguhnya Allah Telah mengharamkan keduanya itu atas orang-orang kafir”).

Al-A’raf: 51

Penjelasan Allah tentang sifat-sifat orang-orang kafir;
 الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَهُمْ لَهْوًا وَلَعِبًا وَغَرَّتْهُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا
(yaitu orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mereka.)

Firman Allah:
 فَالْيَوْم نَنْسَاهُمْ كَمَا نَسُوا لِقَاء يَوْمهمْ هَذَا
(Maka pada hari (kiamat) ini, kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini), adalah bentuk perlakuan, yakni Allah memperlakukan mereka sebagaimana perlakuan kepada orang-orang yang terlupakan. Bukan berarti Allah lupa, karena Allah tidak pernah lupa.
 فِي كِتَاب لَا يَضِلّ رَبِّي وَلَا يَنْسَى
("Pengetahuan tentang itu ada di sisi Tuhanku, di dalam sebuah, Tuhan kami tidak akan salah dan tidak (pula) lupa)(Thaha: 52).

Dalam firmanNya yang lain:

 نَسُوا اللَّه فَنَسِيَهُمْ
(mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka)(At-Taubah: 67)

 كَذَلِكَ أَتَتْك آيَاتنَا فَنَسِيتهَا وَكَذَلِكَ الْيَوْم تُنْسَى
("Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari Ini kamupun dilupakan"). (At-Taubah: 167)

 وَقِيلَ الْيَوْم نَنْسَاكُمْ كَمَا نَسِيتُمْ لِقَاء يَوْمكُمْ هَذَا
("Pada hari ini Kami melupakan kamu sebagaimana kamu telah melupakan pertemuan (dengan) harimu Ini.” (Al-Jatsiyah: 34)

Di dalam hadits Ash-Shahih disebutkan bahwa Allah Ta’ala berkata kepada seorang hamba di hari kiamat:

"أَلَمْ أُزَوِّجك ؟ أَلَمْ أُكْرِمك ؟ أَلَمْ أُسَخِّر لَك الْخَيْل وَالْإِبِل وَأَذَرك تَرْأَس وَتَرْبَع ؟" فَيَقُول: "بَلَى" فَيَقُول: "أَظَنَنْت أَنَّك مُلَاقِيَّ؟" فَيَقُول" "لَا" فَيَقُول اللَّه تَعَالَى: "فَالْيَوْم أَنْسَاك كَمَا نَسِيتنِي.
 “Bukankah Aku telah menikahkanmu? Bukankah Aku telah memuliakanmu? Bukankah telah Aku tundukkan bagimu kuda dan unta, dan Aku membiarkanmu menjadi pemimpin dan bertempat tinggal?” Hamba itu menjawab: “Benar.” Allah berkata: “Apakah kamu menduga bahwa kamu akan bertemu denganKu?” Hamba itu menjawab: “Tidak.” Maka Allah berkata: “Maka pada hari ini Aku melupakanmu sebagaimana kamu telah melupakanKu.” (HR. Muslim)

Kamis, 18 April 2013

SEPUCUK SURAT UNTUK AKU

Kepada yang terhormat:
Aku yang sombong
Di Kelamahan

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Hai Aku…
Apa kabar hari lalu dan hari ini? Semoga segala kebaikan masa lalu menjadi bekal untuk lebih baik hari ini, dan kesalahan masa lalu gugur terampuni dan berlalu seperti berlalunya waktu yang tiada kan terulang kembali. Demikian pula mudah-mudahan kebaikan hari ini akan menjadi benih yang tertanam, subur, berkembang dan berbuah di hari esok, serta segala dosa dan kesalahannya terhapus dengan tetes-tetes keringat kepayahan hari ini. Amin.

Hai Aku…
Jika bukan karena pakaian yang telah Allah berikan, maka kamu adalah makhluk telanjang. Jika bukan karena makanan yang Dia anugerahkan, maka kamu adalah makhluk yang kelaparan. Dan jika bukan karena sinar petunjuk yang Dia pancarkan, tentu kamu adalah makluk buta dan tersesat. Bukankah telah diajarkan kepadamu kalimat hauqolah “laa haula wa laa quwwata illaa billaahi-l-‘aliyyi-l’adziim?” Tentu kamu akan sepenuhnya menyadari makna dibalik kalimat itu bukan? Bahwa kamu bukan siapa-siapa selain dari makhluk lemah tanpa daya, makhluk miskin tanpa harta, makhluk kerdil dan buta.

Jika kamu menganggap dirimu hebat, cobalah bertanya kepada dirimu sendiri, apa kehebatanmu? Apakah kamu masih merasa hebat ketika kamu merasa ketakutan melihat kilat menyambar dan halilintar mengggelegar di atas kepalamu? Jika kamu hebat, kenapa tidak kamu pasang saja badanmu menghadapinya? Kenapa kamu berlari mencari perlindungan di balik tembok tebal dengan badan gemetaran? Lidahmupun komat-kamit mengucap kata: “Ya Allah…” “Allahu Akbar…” “Astaghfirullah…” “Subhanallaah…” Ternyata kamu hanyalah makhluk kecil. Tetapi sayang, meskipun dalam gemetaranmu, dalam komat-kamit bibirmu, kamu tetap saja tidak menyadari sepenuhnya tentang kekerdilanmu. Kala badai itu telah berlalu, langit kembali cerah, hujan beserta petir telah pergi, kamupun lupa. Kamu masih tetap berjalan angkuh, merasa hebat. Kamu lupa bahwa beberapa detik sebelumnya kamu hanyalah makhluk kecil yang berusaha berdiri di atas kakimu yang gemetaran. Kalimat dzikirmu juga tidak lagi terdengar. Berganti dengan tawamu yang meledak-ledak. Lalu kamupun bercerita: “Tadi kilat hebat, halilintar menggelegar” dengan segala drama ceritamu. Dan akhirnya kamu berkata: “Untunglah tadi ada tempat berteduh…” dan kau sebutkan dinding-dinding yang kau jadikan tempat sembunyi. Hanya sekali atau mungkin saja tak kau sebutkan kata “Allah” dalam curhat ceritamu. Bukankah ketika peristiwa itu terjadi yang kamu sebut hanya kalimat-kalimat “Allah?” Bukankah dalam gemetaranmu di antara kilat dan halilintar yang menyambar terbersit peromohonan agar Allah menyelamatkanmu? Ternya kamu bukan saja melupakan Allah yang telah menyelamatkanmu, tetapi kamu juga telah melupakan dirimu sendiri, makhluk kecil tak berdaya sama sekali. Entah kata apa yang lebih tepat untuk menjulukimu selain dari kata sombong. Makhluk lemah yang sok kuat, sok hebat.

Hai Aku…
Ketika kamu terbaring lemah karena sakit yang kamu derita, kamu hanya badan yang tergolek lesu, pucat pasi wajahmu, dan pandangan matamu sayu penuh harap kesehatan. “Allah…” kata itu terdengar lirih darimu. Di atas kasur empuk yang tak terasa nyaman bagimu, dalam balitan selimut yang tak mampu menyenyakkan tidurmu, dalam ketenangan yang meresahkanmu, siapakah yang kamu panggil? “Allah.” Kamu memanggilNya pada malam di kala semua orang telah terlelap dalam tidur, mengadukan sakitmu kala pagi sebelum orang-orang di sekitarmu membuka mata, memohon kesembuhan dariNya di hampir setiap detik yang kamu lalui, tak kenal waktu. Ternyata, kamu yang dalam keseharian merasa hebat, hanyalah jasad lemah lunglai. Tetapi sekali lagi sungguh sayang, kesombonganmu belum juga hilang. Karena dalam sehatmu, kamu lupakan Dia yang selalu kau sebut namaNya. Kamu yang kini telah sehat benar-benar telah menjadi makhluk sombong dan tak tahu diri. Bahkan panggilan untuk menghadapNya yang hanya 5 waktu dalam sehari semalam tak sungguh-sungguh kamu perhatikan. Bukankah dalam sakitmu, kamu memanggilnya setiap detik kesadaranmu dan Dia datang dengan rahmatNya kepadamu?

Hai Aku…
Sungguh kesombonganmu adalah malapetaka bagimu. Bukankah Iblis dikeluarkan dari alam para Malaikat juga karena kesombongannya? Maka jika kesombongan itu kamu biarkan ada di dalam hatimu, berarti kamu telah membiarkan warisan iblis menempati hatimu. Maka bersihkanlah dirimu, bersihkan jiwamu dari sombong.

Hai Aku…
Persis ketika hujan telah reda sore ini, surat ini selesai ditulis. Semoga surat ini menjadi saran dan nasehat baik bagimu. Amin.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.


Nasehat, 18042013
Sahabatmu

Saya Ana Kulo Dalem

Selasa, 10 Mei 2011

BICARA CINTA

Bicara Cinta                                                 

Aku bertanya kepadamu,
Bukan... bukan kepada orang lain di sampingmu...
Tak perlu kau menoleh kanan menoleh kiri...
Bukan... bukan kepada orang di balakangmu
Tak perlu pula kau menengok ke belakang...
Ya... kepadamu saja aku bertanya,
Tentang cinta...
Aku hanya perlu jawaban “YA” atau “TIDAK”

Pertanyaan pertamaku,
Benarkah orang akan selalu ingat yang ia cintai ?

Kenapa kamu diam?
Jawab pertanyaanku!
Benarkah?
Benarkah kamu mengatakan “YA?”
Syukurlah... aku senang kamu menjawab “YA”
Karena kamu banar – benar merasakan sebagian dari cinta.

Pertanyaan keduaku,

Minggu, 08 Mei 2011

Tafsir Surat an - Nisa' 135

ياأيها الذين آمنوا كونوا قوامين بالقسط شهداء لله ولو على أنفسكم أو الوالدين والأقربين إن يكن غنيا أو فقيرا فالله أولى بهما فلا تتبعوا الهوى أن تعدلوا وإن تلووا أو تعرضوا فإن الله كان بما تعملون خبيرا
Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi Karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. jika ia Kaya ataupun miskin, Maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu Karena ingin menyimpang dari kebenaran. dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, Maka Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.
Tafsir Ayat
ياأيها الذين آمنوا كونوا قوامين بالقسط
Terjemah
Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan,
Tafsir
Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan kepada hamba – hambaNya yang beriman, agar mereka

Jumat, 06 Mei 2011

Apa yang salah dariku (bag. 2)

A  p  a     y  a  n  g     s  a  l  a  h     d  a  r  i  k  u   (bag. 2)
Hafidzoh

     Seorang gadis kecil terduduk lunglai di bangkunya. Kepalanya tertunduk menatap lantai kelas. Suaranya tak terdengar lagi. Sesekali yang terdengar hanyalah suara cegukan yang keluar dari tenggorokannya. Ternyata dia sedang menangis. Entah menangis karena apa. Yang pasti, hanya dia satu-satunya siswi yang masih berada di kelas tersebut. Sedangkan yang lain, mungkin mereka sudah pergi bermain bersama teman-temannya. Gadis kecil ini terlihat sangat sedih. Terbukti dengan air mata yang sedari tadi tak berhenti mengalir dari mata sayunya. Dia tampak tengah menyesali sesuatu. Perlahan-lahan, dia melangkahkan kakinya meninggalkan kelas yang sepi itu. Dia meniti jalan pulangnya seorang diri, tanpa seorang teman pun. Hingga akhirnya sampai juga dia di rumah. Sesampainya di rumah, dia tidak segera berganti pakaian. Melainkan langsung menghempaskan tubuhnya ke atas kasur. Dia tertidur. Lelap sekali. Sampai ia benar-benar melupakan semua kejadian yang hari ini menderanya.
            Seperti biasa, pagi ini dia berangkat sekolah diantar oleh ayahnya. Padahal jarak

Rabu, 04 Mei 2011

GONO GINI

GONO GINI
(Harta bersama suami istri)

Salah satu hal yang sering menjadi perbincangan dalam rumah tangga adalah masalah kepemilikan harta. Harta milik suami, harta milik istri, dan harta milik bersama. Biasanya urusan tersebut menjadi pembicaraan hangat dan serius ketika terjadi keretakan hubungan suami istri dan berujung kepada perpisahan atau perceraian. Urusan kepemilikan yang pada awal rumah tangga dibangun tidak atau jarang diperhitungkan karena indahnya cinta, nikmatnya hubungan cinta yang dihalalkan dengan pernikahan, atau karena ke_tabu_an membicarakannya, justru seringkali menjadi penyebab bertambah parahnya keadaan rumah tangga yang sedang berada di ambang perceraian atau bahkan pasca perceraian terjadi. Bukan hanya itu, terkadang urusan gono – gini juga menjadi penyebab sengketa ahli waris ketika perpisahan antara suami istri disebabkan karena salah satu di antara mereka meninggal dunia.

Kecenderungan manusia untuk tidak mau melepas sedikitpun harta hak milik yang dia miliki (bakhil, sangat kuat citanya kepada harta) seperti disebutkan dalam