Berkreasi, Berkarya, Berjuang dengan Pena

Kamis, 18 April 2013

SEPUCUK SURAT UNTUK AKU

Kepada yang terhormat:
Aku yang sombong
Di Kelamahan

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Hai Aku…
Apa kabar hari lalu dan hari ini? Semoga segala kebaikan masa lalu menjadi bekal untuk lebih baik hari ini, dan kesalahan masa lalu gugur terampuni dan berlalu seperti berlalunya waktu yang tiada kan terulang kembali. Demikian pula mudah-mudahan kebaikan hari ini akan menjadi benih yang tertanam, subur, berkembang dan berbuah di hari esok, serta segala dosa dan kesalahannya terhapus dengan tetes-tetes keringat kepayahan hari ini. Amin.

Hai Aku…
Jika bukan karena pakaian yang telah Allah berikan, maka kamu adalah makhluk telanjang. Jika bukan karena makanan yang Dia anugerahkan, maka kamu adalah makhluk yang kelaparan. Dan jika bukan karena sinar petunjuk yang Dia pancarkan, tentu kamu adalah makluk buta dan tersesat. Bukankah telah diajarkan kepadamu kalimat hauqolah “laa haula wa laa quwwata illaa billaahi-l-‘aliyyi-l’adziim?” Tentu kamu akan sepenuhnya menyadari makna dibalik kalimat itu bukan? Bahwa kamu bukan siapa-siapa selain dari makhluk lemah tanpa daya, makhluk miskin tanpa harta, makhluk kerdil dan buta.

Jika kamu menganggap dirimu hebat, cobalah bertanya kepada dirimu sendiri, apa kehebatanmu? Apakah kamu masih merasa hebat ketika kamu merasa ketakutan melihat kilat menyambar dan halilintar mengggelegar di atas kepalamu? Jika kamu hebat, kenapa tidak kamu pasang saja badanmu menghadapinya? Kenapa kamu berlari mencari perlindungan di balik tembok tebal dengan badan gemetaran? Lidahmupun komat-kamit mengucap kata: “Ya Allah…” “Allahu Akbar…” “Astaghfirullah…” “Subhanallaah…” Ternyata kamu hanyalah makhluk kecil. Tetapi sayang, meskipun dalam gemetaranmu, dalam komat-kamit bibirmu, kamu tetap saja tidak menyadari sepenuhnya tentang kekerdilanmu. Kala badai itu telah berlalu, langit kembali cerah, hujan beserta petir telah pergi, kamupun lupa. Kamu masih tetap berjalan angkuh, merasa hebat. Kamu lupa bahwa beberapa detik sebelumnya kamu hanyalah makhluk kecil yang berusaha berdiri di atas kakimu yang gemetaran. Kalimat dzikirmu juga tidak lagi terdengar. Berganti dengan tawamu yang meledak-ledak. Lalu kamupun bercerita: “Tadi kilat hebat, halilintar menggelegar” dengan segala drama ceritamu. Dan akhirnya kamu berkata: “Untunglah tadi ada tempat berteduh…” dan kau sebutkan dinding-dinding yang kau jadikan tempat sembunyi. Hanya sekali atau mungkin saja tak kau sebutkan kata “Allah” dalam curhat ceritamu. Bukankah ketika peristiwa itu terjadi yang kamu sebut hanya kalimat-kalimat “Allah?” Bukankah dalam gemetaranmu di antara kilat dan halilintar yang menyambar terbersit peromohonan agar Allah menyelamatkanmu? Ternya kamu bukan saja melupakan Allah yang telah menyelamatkanmu, tetapi kamu juga telah melupakan dirimu sendiri, makhluk kecil tak berdaya sama sekali. Entah kata apa yang lebih tepat untuk menjulukimu selain dari kata sombong. Makhluk lemah yang sok kuat, sok hebat.

Hai Aku…
Ketika kamu terbaring lemah karena sakit yang kamu derita, kamu hanya badan yang tergolek lesu, pucat pasi wajahmu, dan pandangan matamu sayu penuh harap kesehatan. “Allah…” kata itu terdengar lirih darimu. Di atas kasur empuk yang tak terasa nyaman bagimu, dalam balitan selimut yang tak mampu menyenyakkan tidurmu, dalam ketenangan yang meresahkanmu, siapakah yang kamu panggil? “Allah.” Kamu memanggilNya pada malam di kala semua orang telah terlelap dalam tidur, mengadukan sakitmu kala pagi sebelum orang-orang di sekitarmu membuka mata, memohon kesembuhan dariNya di hampir setiap detik yang kamu lalui, tak kenal waktu. Ternyata, kamu yang dalam keseharian merasa hebat, hanyalah jasad lemah lunglai. Tetapi sekali lagi sungguh sayang, kesombonganmu belum juga hilang. Karena dalam sehatmu, kamu lupakan Dia yang selalu kau sebut namaNya. Kamu yang kini telah sehat benar-benar telah menjadi makhluk sombong dan tak tahu diri. Bahkan panggilan untuk menghadapNya yang hanya 5 waktu dalam sehari semalam tak sungguh-sungguh kamu perhatikan. Bukankah dalam sakitmu, kamu memanggilnya setiap detik kesadaranmu dan Dia datang dengan rahmatNya kepadamu?

Hai Aku…
Sungguh kesombonganmu adalah malapetaka bagimu. Bukankah Iblis dikeluarkan dari alam para Malaikat juga karena kesombongannya? Maka jika kesombongan itu kamu biarkan ada di dalam hatimu, berarti kamu telah membiarkan warisan iblis menempati hatimu. Maka bersihkanlah dirimu, bersihkan jiwamu dari sombong.

Hai Aku…
Persis ketika hujan telah reda sore ini, surat ini selesai ditulis. Semoga surat ini menjadi saran dan nasehat baik bagimu. Amin.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.


Nasehat, 18042013
Sahabatmu

Saya Ana Kulo Dalem

Tidak ada komentar:

Posting Komentar